Advertisment
Advertisment
Advertisment

Pentingnya Etika dan Karakter dalam Politik Menurut Dekan FISIP Unhas dan UHO

, Publisher
27 October 2023, 05:38 Wita
Dekan FISIP UHO, Prof Dr Eka Suaib ketika membuka kegiatan kuliah umum dari Dekan FISIP Unhas di Aula FISIP UHO, Jumat (27 Oktober 2023). FOTO: Sela/LULOPEDIA.

Dekan FISIP UHO, Prof Dr Eka Suaib ketika membuka kegiatan kuliah umum dari Dekan FISIP Unhas di Aula FISIP UHO, Jumat (27 Oktober 2023). FOTO: Sela/LULOPEDIA.

LULOPEDIA.ID: Dekan Fakultas Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin, Prof Dr phil Sukri Tamma, M.Si menekankan pentingnya etika demokrasi dalam pemilu. Menurutnya, etika adalah standar perilaku yang membimbing kita menuju ke arah yang benar. Lebih lanjut, ia menjelaskan peran vital mahasiswa dalam konteks ini.

“Pemilu adalah sebuah kegiatan berstandar tinggi. Mahasiswa yang dalam asumsi adalah orang yang belajar, harus menjadi pelopor dalam menjaga etika ini,” ujar Sukri Tamma pada Lulopedia.id usai memberikan kuliah umum tentang Etika Demokrasi dalam Pemilihan Umum di Aula FISIP Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Jumat (27 Oktober 2023).

BACA JUGA  Perjuangan "Tim Ibu Fitri" dan Komitmen Giona-Subhan Membangun Kendari Berkelas

Menurutnya, mahasiswa dengan wawasannya di bidang politik dan etika harus menjadi rujukan bagi masyarakat.

“Jika mahasiswa sendiri tidak bisa berperilaku etik, bagaimana masyarakat bisa diharapkan untuk melakukan hal yang sama,” tambahnya.

Dirgahayu SUlawesi Tenggara

Ditegaskan pula bahwa mahasiswa adalah ‘moral force’ dan karena itu harus menjadi contoh dalam berperilaku etik dan demokratis.

Dekan FISIP Unhas tersebut berharap bahwa mahasiswa dapat menjadi baseline pemikiran untuk mengembangkan etika demokrasi. “Dunia kampus adalah dunia intelektual. Kesalahan etik oleh mereka memiliki dampak yang lebih besar bagi masyarakat,” pungkasnya.

BACA JUGA  Tina Nur Alam dan Kebangkitan Partisipasi Politik Perempuan di Sultra

Sementara itu Dekan FISIP UHO, Prof Dr H Eka Suaib M.Si mengedepankan soal etika dalam politik sebagai langkah evaluatif terhadap standar kepemimpinan dalam politik. “Tidak hanya soal elektora atau proses, tapi juga tentang adab dan nilai,” ujarnya kepada media ini.

Menurut Eka Suaib, kelemahan struktural dalam partai politik sering memfasilitasi penempatan individu ke posisi tinggi berdasarkan ‘darah biru kekuasaan’ daripada kualifikasi sebenarnya. “Indikator utama untuk duduk di jabatan publik sering kali tidak jelas,” tambahnya.

BACA JUGA  Debat Ketiga Pilkada, Tina-Ihsan Janjikan Tata Kelola Pertambangan untuk Kesejahteraan Rakyat

Lebih lanjut, ia menyoroti cara-cara kontroversial yang sering digunakan individu untuk memperoleh kekuasaan. “Ini semua hanya difasilitasi karena dia punya “privilege” atau keistimewaan tertentu,” katanya.

Sehingga ia menganggap pentingnya karakter dan kepribadian sebagai indikator utama dalam pemilihan kepemimpinan. “Ini akan membentuk generasi penerus yang akan memimpin Indonesia di masa depan,” tutupnya.

Kuliah umum dilaksanakan di Aula FISIP UHO diikuti sekitar 200 peserta terdiri mahasiswa dan dosen di lingkungan FISIP UHO. Dibuka oleh Dekan FISIP UHO, Prof Dr H Eka Suaib M.Si.

Laporan: Sela

 

Dirgahayu SUlawesi Tenggara

Tinggalkan Komentar