
LULOPEFDIA.ID: Pagi itu, udara di Desa Lalomerui masih terasa lembap ketika satu per satu warga mulai berdatangan ke kantor desa. Sebagian berjalan kaki, sebagian lain menumpang kendaraan seadanya. Mereka datang dengan keluhan yang sederhana: sakit kepala, batuk, demam. Namun di balik keluhan itu, tersimpan persoalan yang lebih besar—jarak dan keterbatasan akses layanan kesehatan.
Di wilayah Kecamatan Routa, Kabupaten Konawe, perjalanan menuju fasilitas kesehatan bukan perkara sepele. Puskesmas terdekat bisa berjarak hingga dua jam perjalanan. Dalam kondisi tertentu, waktu tempuh itu bahkan bisa lebih lama, tergantung cuaca dan kondisi jalan.
Di tengah situasi itu, sebuah ambulans putih berhenti di halaman kantor desa. Dari dalamnya turun tim medis—seorang dokter dan dua perawat. Hari itu menjadi awal dari program Mobile Health Clinic yang diinisiasi oleh PT Sulawesi Cahaya Mineral.
Program ini bukan sekadar layanan kesehatan keliling. Ia hadir sebagai jawaban atas kesenjangan akses yang selama ini dirasakan masyarakat di lingkar tambang.

Lebih dari 60 warga memadati lokasi pelayanan pada peluncuran perdana awal April 2026. Prosesnya sederhana namun terstruktur: pendaftaran, pemeriksaan awal oleh perawat, lalu konsultasi dengan dokter.
Bagi banyak warga, ini mungkin pengalaman pertama mendapatkan pemeriksaan medis tanpa harus menempuh perjalanan panjang.
“Sangat membantu,” kata Ita Purnamasari, warga setempat. Kalimatnya singkat, tapi menggambarkan kondisi yang selama ini dihadapi masyarakat.
Bukan hanya warga Desa Lalomerui yang hadir. Dari kawasan perumahan karyawan perkebunan sawit di pinggiran desa, puluhan ibu-ibu bahkan dijemput oleh tim Community Affairs agar bisa ikut memanfaatkan layanan ini. Langkah kecil, tetapi penting, untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.
Keterbatasan akses kesehatan di daerah terpencil bukan fenomena baru di Indonesia. Sejumlah studi dari Kementerian Kesehatan dan lembaga internasional seperti WHO menunjukkan bahwa faktor geografis menjadi salah satu penyebab utama rendahnya akses layanan kesehatan dasar di wilayah rural.
Dalam konteks Routa, tantangan itu terasa nyata.
Kepala Desa Lalomerui, Taksir Unggahi, menyebut layanan ini sebagai “pelengkap yang sangat dibutuhkan.” Selama ini, warga harus memilih antara menunda pengobatan atau menempuh perjalanan jauh dengan biaya tidak sedikit.
Kehadiran klinik keliling mengubah pilihan itu.
Program ini tidak berhenti pada pengobatan penyakit ringan. Di balik layanan medis, ada upaya yang lebih besar: membangun kesadaran kesehatan.
Tim medis juga memberikan penyuluhan tentang: gizi keluarga untuk mencegah stunting, penyakit menular seperti tuberkulosis dan hepatitis, pencegahan HIV dan pentingnya deteksi dini.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep pelayanan kesehatan preventif yang banyak direkomendasikan dalam literatur kesehatan masyarakat. Intervensi dini, terutama di daerah terpencil, terbukti lebih efektif dibanding penanganan ketika penyakit sudah berkembang.
Namun, tidak semua kasus yang ditemui bersifat ringan.
Pada kunjungan ke Desa Puuwiwirano, tim medis menangani seorang warga lanjut usia, Muhammad Aisa, yang mengalami luka serius akibat tertusuk kayu saat bekerja di kebun. Ia mengalami pendarahan dan membutuhkan tindakan cepat.
Tim medis segera membawanya ke pos layanan, melakukan penjahitan luka, dan memberikan perawatan intensif sebelum akhirnya ia bisa kembali ke rumah.
Kejadian seperti ini menunjukkan satu hal: akses cepat terhadap layanan kesehatan bisa menjadi pembeda antara kondisi yang tertangani dan yang berpotensi memburuk.
Perubahan yang terjadi di Routa tidak hanya soal layanan kesehatan. Infrastruktur juga memainkan peran penting.
Syamsuri, staf Kecamatan Routa, mengingat masa ketika perjalanan ke wilayah ini bisa memakan waktu berhari-hari. Kini, berkat pembangunan jalan, perjalanan dapat ditempuh dalam hitungan jam.
Perbaikan akses fisik ini menjadi fondasi penting bagi keberhasilan program seperti Mobile Health Clinic. Tanpa jalan yang memadai, layanan keliling pun sulit menjangkau masyarakat.
Setelah Lalomerui, program ini dirancang bergerak ke desa-desa lain: Walandawe, Puuwiwirano, Tanggola, Tirawonua, Parudongka, hingga Kelurahan Routa. Bahkan desa Pondoa di Kabupaten Konawe Utara juga masuk dalam rencana layanan.
Setiap hari, layanan dibuka dari pukul 08.00 hingga sekitar 14.00, menyesuaikan jumlah pasien. Selain itu, tersedia layanan darurat 24 jam di pos Sierra Bravo yang bekerja sama dengan klinik perusahaan.
Model ini menggabungkan dua pendekatan yakni layanan rutin berbasis kunjungan dan layanan darurat berbasis lokasi tetap.
Kombinasi ini penting untuk menjawab kebutuhan kesehatan yang tidak selalu bisa diprediksi.
Dalam banyak kasus, kehadiran perusahaan tambang seringkali menimbulkan perdebatan. Namun di sisi lain, program seperti ini menunjukkan bagaimana intervensi perusahaan dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat sekitar.
Program Mobile Health Clinic merupakan bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Dalam konteks global, pendekatan seperti ini dikenal sebagai corporate social responsibility (CSR) berbasis kebutuhan lokal.
Keberhasilannya bergantung pada satu hal sederhana: apakah program benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Di Routa, jawabannya mulai terlihat.
Bagi warga, layanan ini bukan sekadar fasilitas baru. Ia adalah harapan yang datang lebih dekat.
Harapan untuk tidak lagi menunda berobat.
Harapan untuk anak-anak tumbuh lebih sehat.
Harapan untuk hidup dengan rasa aman yang lebih besar.
Program ini mungkin dimulai dari satu ambulans dan satu tim kecil. Namun dampaknya, perlahan, menjalar lebih luas—melintasi jalan tanah, kebun, dan jarak yang selama ini menjadi penghalang.
Di tempat seperti Routa, perubahan memang sering datang pelan. Tapi ketika ia benar-benar menyentuh kebutuhan dasar, seperti kesehatan, dampaknya bisa terasa jauh lebih dalam. (Shen Keanu)
