Mahasiswa KKN Tematik UHO Dampingi SMAN 2 Bentuk Koperasi Sekolah

LULOPEDIA.ID: Siang itu, Jumat, 17 Juli 2026, ruang pertemuan SMA Negeri 2 Kendari tidak dipenuhi pembahasan mata pelajaran seperti biasanya. Pihak sekolah diajak membayangkan sesuatu yang berbeda. Bukan tentang nilai ujian, melainkan tentang bagaimana sebuah ide sederhana dapat tumbuh menjadi usaha yang menghasilkan.
Di hadapan mereka, 17 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Halu Oleo (UHO) membuka rangkaian pengabdian masyarakat dengan sebuah workshop bertajuk Ideasi dan Perencanaan Bisnis serta Sosialisasi sekaligus Pembentukan Koperasi Sekolah. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk menanamkan budaya kewirausahaan sejak di bangku sekolah.
Program tersebut merupakan bagian dari KKN Tematik UHO Tahun 2026 yang mengusung tema “Pengembangan Kompetensi Kewirausahaan Berbasis Ekonomi Kreatif melalui Pendampingan Edukatif Mahasiswa FKIP Universitas Halu Oleo di SMA Negeri 2 Kota Kendari.”
Berlangsung sejak siang hingga sore hari, kegiatan ini bukan sekadar penyampaian materi. Dosen dan mahasiswa hadir sebagai pendamping yang akan menemani siswa mengenali potensi diri, mengembangkan ide bisnis, hingga memahami bagaimana sebuah usaha dapat dijalankan secara sederhana tetapi berkelanjutan.

Ketua Tim Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Prof. Dr. Edy Karno, S.Pd., M.Pd., bersama anggota tim, diantaranya yakni Dr. Muliha Halim, M.Si., Dr. Muh. Ilham, S.E., M.Si., dan Dra. Murniati, M.Si., mengawasi langsung pelaksanaan program tersebut.
Dalam pemaparan gambaran umum program kerja, mahasiswa menjelaskan bahwa kewirausahaan saat ini tidak lagi dipahami sebatas kemampuan berjualan. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan melihat peluang, memecahkan persoalan, bekerja sama, serta berani mengubah gagasan menjadi karya yang memiliki nilai ekonomi.
Karena itu, selama pelaksanaan KKN, mahasiswa tidak hanya memberikan teori. Mereka akan mendampingi siswa melalui berbagai tahapan yang bersifat praktis dan partisipatif.
Program pertama diawali dengan workshop ideasi dan penyusunan rencana bisnis sederhana. Pada saat yang sama, mahasiswa juga memfasilitasi sosialisasi dan pembentukan koperasi sekolah yang diharapkan menjadi wadah bagi siswa untuk belajar mengelola usaha secara kolektif.
Koperasi tersebut dirancang bukan hanya sebagai organisasi sekolah, tetapi juga sebagai ruang belajar. Di tempat itu, siswa diharapkan dapat mengembangkan kreativitas, mengelola usaha bersama, hingga membangun budaya kewirausahaan yang berkelanjutan.
Pendampingan kemudian akan berlanjut pada pekan berikutnya melalui pelatihan pemasaran digital dan pengelolaan keuangan sederhana. Siswa akan belajar membuat foto produk yang menarik, menyusun konten promosi di media sosial, serta memahami cara menghitung modal, biaya produksi, harga jual, pendapatan, dan keuntungan usaha.
Seluruh rangkaian kegiatan menggunakan pendekatan yang menempatkan siswa sebagai pelaku utama. Ceramah interaktif dipadukan dengan diskusi kelompok, survei minat, focus group discussion (FGD), hingga praktik langsung sehingga setiap peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mengalami sendiri proses membangun sebuah usaha.
Mahasiswa KKN akan mendampingi siswa mulai dari menemukan ide bisnis, merancang produk, menentukan strategi pemasaran, menetapkan harga, hingga mengevaluasi hasil usaha yang dijalankan.
Melalui pola pendampingan seperti ini, KKN Tematik UHO tidak hanya meninggalkan kegiatan seremonial, tetapi berupaya membangun ekosistem kewirausahaan di lingkungan sekolah. Target akhirnya bukan sekadar terlaksananya workshop, melainkan lahirnya siswa yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan keberanian untuk berwirausaha.
Selain terbentuknya koperasi sekolah sebagai wadah kolaborasi, program ini juga akan menghasilkan modul pendampingan yang dapat dimanfaatkan sebagai panduan bagi sekolah dalam mengembangkan pendidikan kewirausahaan secara berkelanjutan.
Bagi para mahasiswa FKIP UHO, pengabdian ini menjadi ruang untuk menerapkan ilmu yang diperoleh di kampus. Sementara bagi para siswa SMA Negeri 2 Kendari, kegiatan tersebut dapat menjadi awal dari perjalanan yang lebih besar, ketika sebuah ide yang lahir di ruang kelas suatu hari nanti tumbuh menjadi usaha yang memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun masyarakat. (adv)











