
LULOPEDIA.ID: Pukul sembilan pagi waktu Kendari, layar Zoom mulai penuh dengan wajah-wajah guru dari berbagai sekolah. Di balik layar-layar kecil itu, ada semangat yang nyala. Bukan hanya untuk belajar teknologi, tetapi untuk menyambut masa depan.
Hari itu, Sabtu, 12 Juli 2025, Mafindo Kendari bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Kendari menyelenggarakan pelatihan bertajuk AI Goes To School (AIGTS). Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya satu dari sekian program pelatihan guru. Tapi bagi mereka yang hadir, ini adalah momentum. Sebuah langkah awal memahami dan memanfaatkan Kecerdasan Artifisial (Artificial Intelligence/AI) dalam proses belajar mengajar.
“Materinya benar-benar membuka mata saya,” ungkap Riatno Sardi Amin dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kendari. “Kami selama ini mungkin sudah memakai teknologi, tapi belum benar-benar memahami bagaimana AI bisa digunakan secara optimal dalam pendidikan.”
Pernyataan Riatno bukan tanpa dasar. Di tengah cepatnya perkembangan teknologi, banyak guru di Indonesia masih berjuang menyesuaikan diri. Data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada 2024 mencatat bahwa lebih dari 70% guru di Indonesia belum mendapatkan pelatihan mendalam tentang pemanfaatan AI dalam pembelajaran. Padahal, AI kini tak lagi sekadar alat bantu, tapi telah menjadi aktor utama dalam perubahan ekosistem pendidikan global.

Pelatihan AIGTS ini menjadi jawaban atas tantangan itu. Program ini adalah bagian dari inisiatif nasional Mafindo untuk mendampingi 10.000 guru di 40 kota selama 18 bulan, dengan dukungan strategis dari Google.org, AVPN, dan Asian Development Bank (ADB). Di Kendari, inisiatif ini disambut antusias. Meskipun kuota awal hanya 130 orang, pendaftaran nyaris menembus 200 peserta. Sebuah lonjakan yang menggambarkan satu hal: guru siap berubah.
Dari Hoaks ke AI: Evolusi Misi Mafindo
Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) selama ini dikenal sebagai organisasi yang memerangi hoaks dan disinformasi. Namun beberapa tahun terakhir, organisasi ini mengembangkan sayapnya ke sektor pendidikan digital. AIGTS adalah salah satu terobosannya.
Di Kendari, pelatihan berlangsung interaktif. Tidak hanya materi teori seperti pengantar teknologi AI, etika penggunaan AI, atau manajemen prompt, tetapi juga praktik nyata bagaimana ChatGPT, Google Gemini, hingga platform LMS digunakan untuk:
Rahmawati, penanggung jawab kegiatan, menyebut bahwa pelatihan ini bukan sekadar berbagi ilmu, tapi juga membangun ekosistem. “Kami ingin guru tidak hanya jadi pengguna teknologi, tapi juga tahu bagaimana teknologi bekerja. Bagaimana data mereka diproses, bagaimana AI bisa menjadi kawan, bukan ancaman,” ujarnya.
Bagi Pratiwi Nusi, guru dari SMPTQ Muadz Kendari, pelatihan ini ibarat menemukan jawaban dari kebingungan. “Saya tertarik sejak membaca judulnya. Pembahasan tentang kecerdasan artifisial selalu menarik. Tapi di sini, kami tidak hanya diberi materi. Kami diajak berpikir kritis, mempraktikkan langsung, dan yang paling penting: kami merasa relevan,” katanya.
Pratiwi mewakili banyak guru di daerah yang selama ini hanya menjadi penonton dari hiruk-pikuk inovasi pendidikan di kota-kota besar. Pelatihan seperti AIGTS memberinya ruang untuk setara, dan untuk percaya bahwa transformasi digital tak hanya milik Jakarta atau Surabaya.
Masa Depan Tak Lagi Jauh
Perubahan iklim pendidikan digital tak lagi menunggu kesiapan. AI telah hadir, mau tak mau. Menurut laporan UNESCO 2023, pemanfaatan AI dalam pendidikan dapat meningkatkan efektivitas pengajaran hingga 30%, dan efisiensi kerja administrasi sekolah hingga 40%. Tapi semua itu baru mungkin terjadi jika guru menjadi bagian dari transformasi itu — bukan korban dari sistem yang berubah terlalu cepat.
AIGTS di Kendari telah menyalakan percikan itu. Dan jika percikan ini dirawat, disambung, dan ditularkan, bukan tak mungkin, revolusi pendidikan Indonesia akan tumbuh dari ruang-ruang belajar yang sebelumnya sepi dari sorotan: dari kota-kota kecil, dari tangan para guru yang tak pernah lelah belajar.
Dan di sana, di layar-layar kecil Zoom, perubahan itu mulai berdenyut.
Laporan: Shen Keanu
