Safari Ramadan di Lingkar Tambang Routa: Ketika Industri dan Ibadah Bertemu dalam Harmoni Sosial

Shen Keanu, Lulopedia Indonesia
Friday, 20 Mar 2026 - 23:04 Wita

LULOEPDIA.ID: Senja perlahan turun di Desa Lalomerui, sebuah wilayah yang berada di jantung aktivitas tambang di Kecamatan Routa, Kabupaten Konawe. Cahaya matahari yang meredup memantul pada hamparan tanah merah khas kawasan pertambangan, sementara di kejauhan, suara kendaraan operasional perlahan berganti dengan lantunan azan magrib yang menggema dari Masjid Al-Qautsar—sebuah bangunan yang baru saja “hidup kembali” setelah direnovasi.

Di desa ini, Ramadan tahun 1447 Hijriah terasa berbeda.

Warga berkumpul sejak sore hari. Anak-anak berlarian di halaman masjid, ibu-ibu menyiapkan hidangan berbuka, sementara para tokoh masyarakat berdiri menyambut rombongan dari PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM). Kehadiran mereka bukan sekadar kunjungan formal, melainkan bagian dari Safari Ramadan—sebuah program yang, dalam praktiknya, menjembatani relasi antara industri ekstraktif dan kehidupan sosial masyarakat lokal.

Wilayah Routa selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan pertambangan nikel yang berkembang pesat di Sulawesi Tenggara. Dalam berbagai studi mengenai industri ekstraktif, seperti yang dikemukakan oleh Jenkins & Yakovleva (2006) dalam Corporate Social Responsibility in the Mining Industry, keberadaan perusahaan tambang tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga pada struktur sosial, budaya, dan relasi komunitas.

Dirgahayu SUlawesi Tenggara

Dalam konteks inilah, kegiatan seperti Safari Ramadan menjadi relevan.

Program yang digagas PT SCM ini tidak hanya dilaksanakan di Desa Lalomerui, tetapi juga menjangkau sejumlah desa lain di lingkar tambang, termasuk Desa Walandawe di Kecamatan Routa serta Desa Pondoa di Kabupaten Konawe Utara. Di setiap titik, pola kegiatannya relatif serupa: tausiyah keagamaan, buka puasa bersama, interaksi sosial, hingga distribusi bantuan.

BACA JUGA  Membuka Isolasi Routa, Jalan Desa dari Lingkar Tambang yang Mengubah Arah Hidup Warga Konawe

Namun, makna dari kegiatan ini tidak berhenti pada rangkaian acara.

Bagi masyarakat, kehadiran langsung perusahaan di ruang-ruang sosial seperti ini menghadirkan bentuk komunikasi yang lebih personal—sesuatu yang dalam teori komunikasi pembangunan disebut sebagai participatory engagement, di mana interaksi langsung menjadi kunci membangun kepercayaan (Servaes, 1999).

Peresmian Masjid Al-Qautsar menjadi salah satu momen paling emosional dalam rangkaian Safari Ramadan tersebut. Masjid ini merupakan satu-satunya sarana ibadah di Desa Lalomerui, yang sebelumnya berada dalam kondisi terbatas.

Kini, setelah renovasi total dengan dukungan PT SCM, masjid tersebut berdiri lebih layak—menjadi pusat aktivitas spiritual sekaligus sosial warga.

Kepala Desa Lalomerui, Taksir Unggahi, menyampaikan harapannya dengan nada yang sederhana namun sarat makna. Ia melihat masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang kolektif yang memperkuat kohesi sosial masyarakat.

Dalam perspektif sosiologi agama, seperti yang dijelaskan oleh Durkheim, tempat ibadah berfungsi sebagai “arena solidaritas sosial” di mana individu merasakan keterikatan dengan komunitasnya. Apa yang terjadi di Lalomerui menunjukkan bagaimana infrastruktur keagamaan dapat berperan dalam memperkuat struktur sosial, terutama di wilayah yang mengalami tekanan perubahan akibat aktivitas industri.

Di sela-sela kegiatan formal, suasana berubah menjadi lebih cair ketika sesi kuis Anak Saleh dimulai. Anak-anak dengan polos menjawab pertanyaan tentang ajaran dasar Islam—kadang tepat, kadang meleset, namun selalu mengundang tawa.

Momen ini tampak sederhana, tetapi memiliki dimensi yang lebih dalam.

Kegiatan edukatif berbasis komunitas seperti ini sering dianggap sebagai bagian dari social investment dalam kerangka tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Menurut World Bank (2010), investasi sosial yang menyasar pendidikan informal dan nilai-nilai budaya lokal dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia di daerah sekitar industri.

BACA JUGA  Tragedi di Jalan Poros Kendari-Unaaha, Kehilangan Seorang Abdi Negara

Tak hanya anak-anak, kaum ibu juga dilibatkan dalam sesi interaktif. Hal ini menunjukkan pendekatan inklusif yang berupaya merangkul seluruh lapisan masyarakat—sebuah praktik yang dalam studi CSR modern dianggap sebagai indikator keberhasilan program berbasis komunitas.

Selain kegiatan seremonial, Safari Ramadan PT SCM juga diiringi dengan distribusi hampir 400 paket bingkisan kepada warga prasejahtera di wilayah lingkar tambang. Paket tersebut berisi kebutuhan pokok, yang secara simbolis diserahkan kepada pemerintah desa sebelum didistribusikan kepada warga.

Dalam pendekatan ekonomi pembangunan, distribusi bantuan semacam ini sering dipandang sebagai bentuk short-term social safety net. Meski tidak menyelesaikan persoalan struktural kemiskinan, bantuan ini dapat membantu menjaga daya tahan masyarakat, terutama pada momen-momen penting seperti Ramadan.

Namun, lebih dari sekadar nilai material, bingkisan tersebut memiliki makna simbolik.

Ia menjadi representasi dari pengakuan—bahwa masyarakat sekitar tambang adalah bagian dari ekosistem yang tidak terpisahkan dari aktivitas industri.

Di Desa Walandawe, Kepala Desa Guslan menekankan pentingnya menjaga hubungan antara perusahaan dan masyarakat. Pernyataannya mencerminkan realitas yang sering ditemukan di wilayah pertambangan: hubungan yang harmonis tidak terjadi secara otomatis, melainkan harus terus dirawat.

Tokoh adat Routa, Sarmada, bahkan mengaitkan hal ini dengan nilai spiritual Ramadan. Baginya, silaturahmi bukan sekadar hubungan sosial, tetapi juga bagian dari praktik keagamaan yang memiliki konsekuensi moral.

BACA JUGA  Hujan Tak Redam Semangat, Ribuan Warga Abuki Hadiri Kampanye Tina-Ihsan untuk Masa Depan Sultra

Pandangan ini sejalan dengan konsep social license to operate (SLO) dalam industri pertambangan—sebuah gagasan bahwa keberlanjutan operasional perusahaan sangat bergantung pada penerimaan sosial dari masyarakat lokal (Prno & Slocombe, 2012).

Tanpa kepercayaan, konflik sosial dapat muncul. Sebaliknya, dengan komunikasi yang terbuka dan hubungan yang baik, perusahaan dapat beroperasi lebih stabil dalam jangka panjang.

Bagi PT SCM, Safari Ramadan diposisikan sebagai bagian dari komitmen sosial perusahaan. Kepala Teknik Tambang (KTT) PT SCM, Didik Fotunadi, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan upaya membangun hubungan yang harmonis melalui interaksi langsung.

Pernyataan tersebut mencerminkan pergeseran paradigma dalam praktik CSR modern.

Jika sebelumnya CSR sering dipahami sebagai kegiatan filantropi semata, kini pendekatannya lebih strategis—menekankan pada keberlanjutan, partisipasi masyarakat, dan integrasi dengan pembangunan lokal.

Dalam konteks Indonesia, khususnya di sektor pertambangan, pendekatan ini menjadi semakin penting mengingat kompleksitas dampak sosial dan lingkungan yang ditimbulkan.

Di penghujung acara, setelah azan isya berkumandang dan warga mulai beranjak pulang, suasana di Desa Lalomerui kembali tenang. Namun, jejak dari pertemuan itu masih terasa.

Ramadan, dalam konteks ini, bukan hanya momentum ibadah personal, tetapi juga ruang rekonsiliasi sosial—tempat di mana berbagai kepentingan bertemu, berdialog, dan mencari titik keseimbangan.

Di wilayah seperti Routa, di mana industri dan komunitas hidup berdampingan, keseimbangan tersebut menjadi kunci.

Safari Ramadan PT SCM mungkin hanya berlangsung beberapa hari. Namun, makna yang dibawanya—tentang kebersamaan, kepercayaan, dan tanggung jawab sosial—memiliki implikasi yang jauh lebih panjang.

Laporan: Shen Keanu

Dirgahayu SUlawesi Tenggara

Baca Juga

Rekomendasi untuk Anda