
Oleh: Andi Mahfud
LULOPEDIA.ID: Pagi menjelang siang, Auditorium Mokodompit di jantung Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari, kembali bergemuruh. Bukan oleh sorak-sorai, melainkan oleh tepuk tangan panjang penuh haru. Suasana khidmat dan bangga menyelimuti ruang besar tempat 914 lulusan dari tujuh fakultas resmi dikukuhkan dalam Wisuda Gelombang Kedua Periode April–Juli 2025. Di antara para sarjana baru, satu nama dipanggil paling lantang: Muhammad Nabil Afkar.
Remaja 22 tahun kelahiran Wawotobi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, itu berdiri tegap, mengenakan toga hitam dengan selempang biru laut kebesaran Fakultas Teknik. Hari itu, Nabil bukan hanya meraih gelar Sarjana Teknik Informatika, tapi juga kehormatan sebagai wisudawan terbaik Universitas Halu Oleo. Dengan IPK nyaris sempurna, 3,97 dan masa studi 3 tahun 11 bulan, ia mencatatkan namanya di antara deretan mahasiswa berprestasi dalam sejarah UHO.
Bagi Nabil, pencapaian ini bukan datang dari langit. Ia lahir dari keluarga pendidik: ayahnya, Hizal Joisman, S.P., dan ibunya, Hasniar, S.Pd., adalah dua sosok yang meletakkan nilai-nilai disiplin, ketekunan, dan tanggung jawab dalam setiap langkah hidup anak-anak mereka. Nabil adalah anak kedua dari tiga bersaudara, tumbuh di lingkungan yang sederhana namun sarat makna.

Sebagai wisudawan terbaik, Nabil diminta berdiri di podium, mewakili ratusan teman-teman seangkatannya untuk menyampaikan pidato perpisahan. Suaranya tenang, namun penuh makna.
“Apa yang kita capai hari ini bukan hanya hasil dari usaha pribadi, tetapi juga buah dari doa, dukungan, dan pengorbanan banyak pihak,” ucap Nabil, diiringi senyum tulus.
Ia mengenang proses menyusun skripsi yang penuh tantangan. Bagi sebagian mahasiswa, ini bisa menjadi momok. Namun Nabil memilih menghadapi, bukan menghindar.
”Perjalanan ke depan mungkin tidak selalu mudah, tetapi pengalaman di kampus ini telah mengajarkan kita bahwa setiap tantangan bisa dihadapi dengan tekad, kerja keras, dan harapan yang tidak pernah padam,” ujarnya.
Pidato Nabil menjadi momen paling mengharukan hari itu. Tak hanya karena kata-katanya penuh ketulusan, tapi juga karena ia berhasil mewakili semangat zaman: generasi baru yang melek teknologi, berjiwa sosial, dan siap membawa perubahan.
914 Sarjana Baru, 7 Fakultas, 1 Visi UHO
Wisuda hari kedua ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah momen transisi: dari dunia akademik menuju dunia praktik, dari ruang kuliah menuju ruang publik.
Berikut rincian jumlah lulusan yang diwisuda:
Dari total 1.868 lulusan yang diwisuda selama dua hari pelaksanaan, mereka diharapkan menjadi duta intelektual baru, yang membawa misi UHO untuk membangun bangsa dengan nilai-nilai “Berprestasi, Bermoral, dan Berbudaya.”
Menurut Rektor UHO, Prof. Armid, S.Si., M.Si., M.Sc., D.Sc., tema wisuda ini bukan hanya slogan, tapi cerminan visi universitas dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas dan karakter kepemimpinan.
Dalam sambutannya, ia menyatakan bahwa UHO berkomitmen untuk mendidik mahasiswa yang siap berkontribusi dalam masyarakat, baik di bidang profesi, kewirausahaan, maupun pengabdian sosial. Keberhasilan Nabil adalah satu dari sekian contoh konkret dari proses panjang tersebut.
Di tengah tantangan globalisasi, transformasi digital, dan dunia kerja yang makin kompetitif, kisah seperti Nabil adalah napas segar bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia timur. Ia membuktikan bahwa asal bukanlah batas. Dari Wawotobi ke panggung kehormatan akademik, Nabil menempuh jalan yang sama seperti ribuan mahasiswa lainnya — dengan semangat, belajar keras, dan integritas.
Dalam data Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IX, UHO termasuk perguruan tinggi dengan jumlah lulusan terbanyak di Indonesia bagian timur. Namun kuantitas saja tidak cukup. Maka kisah seperti Nabil, menjadi pengingat bahwa kualitas — nilai moral, dedikasi, dan kepekaan sosial — adalah roh sesungguhnya dari pendidikan tinggi.
Tak banyak yang tahu ke mana Nabil akan melangkah setelah toga dilipat dan ijazah digenggam. Tapi satu hal pasti: ia telah meninggalkan jejak di UHO — bukan hanya sebagai mahasiswa berprestasi, tapi sebagai simbol harapan baru.
Di luar Auditorium Mokodompit, langit Kendari begitu terang. Angin sepoi siang hari membawa harum ketekunan dan harapan. Di antara ratusan wajah bahagia yang turun dari panggung wisuda, Muhammad Nabil Afkar berdiri tegak, melangkah pasti. Ia tahu, perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai. ***
Penulis adalah Andi Mahfud, alumni Program Studi Jurnalistik FISIP Universitas Halu Oleo, bergabung sebagai wartawan Media SultraKini Group pada Agustus 2025.
