
LULOPEDIA.ID: Di sebuah aula sederhana milik Kantor Bupati Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Kamis pagi itu, kursi-kursi telah penuh terisi. Sekitar 300 warga dari berbagai kalangan—ibu-ibu muda, guru PAUD, tokoh masyarakat, dan pelajar berseragam rapi—hadir dengan satu harapan yang sama: anak-anak mereka bisa tumbuh sehat, cerdas, dan bebas dari jeratan stunting.
Hari itu, 12 Juni 2025, bukan sekadar hari sosialisasi program pemerintah. Bagi sebagian besar yang datang, ini adalah awal dari perubahan. Sebuah program yang tampak sederhana—Makan Bergizi Gratis (MBG)—dapat menjadi pelita dalam upaya panjang mengatasi masalah gizi buruk dan malnutrisi yang sudah lama menghantui banyak daerah di Indonesia, termasuk Konawe Selatan.
Menurut data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, prevalensi stunting nasional berada di angka 21,6 persen. Angka ini menunjukkan penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya, namun masih jauh dari target 14 persen yang ingin dicapai pada tahun 2024, sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
Konawe Selatan, sebuah kabupaten agraris di jazirah tenggara Sulawesi, menjadi perhatian khusus. Berdasarkan data Dinas Kesehatan setempat, prevalensi stunting di beberapa kecamatan mencapai lebih dari 25 persen. Itu berarti satu dari empat anak kemungkinan mengalami gangguan tumbuh kembang akibat kekurangan gizi kronis.

“Ini bukan sekadar soal makanan, ini soal masa depan bangsa,” ujar Ahmad Safei, Anggota Komisi IX DPR RI, dalam pidatonya di hadapan peserta sosialisasi.
Ia datang langsung ke lokasi, bersama Bupati Konawe Selatan Irham Kalenggo dan perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN), sebagai bagian dari sinergi lintas lembaga. Menurut Safei, MBG merupakan bentuk komitmen konkret DPR dan pemerintah pusat untuk menghapus ketimpangan gizi—terutama di kawasan Indonesia timur yang selama ini sering luput dari sorotan.
Program MBG menyasar empat kelompok prioritas: anak-anak sekolah (PAUD hingga SMA, termasuk santri), balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Merekalah yang berada di titik paling rentan dalam siklus kehidupan manusia. Ketika asupan gizi terganggu di masa-masa ini, dampaknya bisa berlangsung seumur hidup.
Alwin Supriyadi, Tenaga Ahli dari BGN, menekankan bahwa setiap paket makanan dalam program ini dirancang berdasarkan standar gizi nasional, mencakup kebutuhan protein, vitamin, mineral, dan kalori harian. Tidak hanya nasi dan lauk, tapi juga buah, susu, dan makanan tambahan bergizi tinggi.
“Kami tidak ingin ini menjadi program seremonial. Kami ingin ini berdampak langsung pada kualitas belajar anak-anak dan produktivitas masyarakat,” tegas Alwin.
Dan memang, kaitan antara gizi dan kecerdasan bukan sekadar klaim. UNICEF mencatat, anak yang mengalami stunting memiliki rata-rata IQ yang lebih rendah 11 poin dibanding anak dengan pertumbuhan normal. Selain itu, risiko putus sekolah dan penghasilan rendah saat dewasa meningkat drastis.
MBG bukan sekadar memberi makan, tapi juga memulihkan martabat anak-anak Indonesia. Setiap piring nasi yang terhidang di ruang makan sekolah adalah investasi jangka panjang. Makanan bergizi menjadi titik awal pembentukan generasi yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga kuat secara mental dan intelektual.
Program ini juga menjadi bagian dari strategi menuju Indonesia Emas 2045, sebuah visi besar yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan. Tanpa generasi sehat sejak dini, visi itu akan tinggal utopia.
“Kami ingin setiap anak di Konawe Selatan punya peluang yang sama dengan anak-anak di kota besar. Mulai dari meja makan,” kata Irham Kalenggo, Bupati Konawe Selatan, dalam pernyataannya.
Namun tantangan tidak berhenti pada tahap sosialisasi. Program ini membutuhkan konsistensi anggaran, keterlibatan aktif sekolah dan keluarga, serta pemantauan berkala. Tanpa itu, MBG bisa berubah hanya menjadi jargon.
Pemerintah daerah dan pusat kini tengah menyiapkan mekanisme pelaporan digital untuk memantau pelaksanaan program, serta membuka ruang partisipasi masyarakat agar ada kontrol sosial yang sehat. Dalam waktu dekat, pelatihan bagi tenaga pengelola dapur sekolah akan digelar secara bertahap.
Hari itu, saat sosialisasi selesai dan peserta pulang membawa brosur gizi serta semangat baru, aula kantor bupati tampak lebih dari sekadar ruang pertemuan. Ia menjadi ruang lahirnya harapan. Harapan bahwa dari piring makan yang bergizi, akan tumbuh anak-anak yang kelak memimpin negeri ini dengan kepala tegak. (adv)
