
LULOPEDIA.ID – Pagi di pegunungan Routa selalu datang perlahan. Kabut tipis menggantung di punggung bukit, menutupi jalan tanah yang berkelok, tempat roda-roda kendaraan dulu sering terjebak lumpur berhari-hari. Di wilayah terpencil Kabupaten Konawe itu, jalan bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah harapan, jalur hidup, dan kadang satu-satunya penghubung antara desa dan masa depan.
Bagi warga Desa Puuwiwirano dan Tanggola, jalan baru sepanjang hampir tiga kilometer kini terasa seperti garis terang yang membelah keterisolasian lama. Jalur yang dulunya licin dan rapuh, kini dipadatkan, diperkuat, dan dapat dilalui kendaraan dengan lebih aman, sebuah perubahan yang pelan tapi pasti menggeser ritme kehidupan.
Di banyak wilayah pedesaan Indonesia, kualitas jalan berkorelasi langsung dengan tingkat kesejahteraan. Sejumlah studi pembangunan wilayah menunjukkan bahwa akses transportasi yang lebih baik mempercepat distribusi hasil pertanian, menekan biaya logistik, dan meningkatkan akses pendidikan serta kesehatan. Dalam konteks inilah pembangunan jalan penghubung antardesa di Routa memperoleh makna yang lebih luas dari sekadar proyek fisik.
Jalan penghubung antara Puuwiwirano dan Tanggola dibangun melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) oleh PT Sulawesi Cahaya Mineral (PT SCM), anak usaha PT Merdeka Battery Materials Tbk yang bernaung di bawah PT Merdeka Copper Gold Tbk. Investasi sekitar Rp2,1 miliar untuk jalan sepanjang 2.873 meter itu mungkin terdengar kecil dalam skala industri tambang, tetapi dampaknya terasa nyata di desa yang berjarak lebih dari 300 kilometer dari ibu kota kabupaten.

Bagi warga, perubahan paling terasa bukan hanya pada permukaan jalan yang lebih keras, tetapi pada waktu tempuh yang kini lebih pasti. Perjalanan yang dulu memakan waktu berjam-jam saat hujan, kini dapat dilalui lebih cepat dan dengan risiko lebih kecil.
Dari Proyek Tambang ke Ruang Hidup Warga
Kehadiran industri ekstraktif di wilayah terpencil sering menimbulkan perdebatan panjang—antara peluang ekonomi dan dampak sosial-lingkungan. Namun di Routa, proyek jalan ini memperlihatkan sisi lain dari interaksi antara perusahaan dan masyarakat.
Pembangunan tidak sepenuhnya datang dari luar. Material proyek sebagian besar disuplai melalui Koperasi Desa Merah Putih Tanggola. Alat berat seperti ekskavator dan truk milik warga ikut digunakan. Sejumlah penduduk bekerja sebagai sopir truk, operator, hingga pengawas lapangan. Dalam prosesnya, jalan itu bukan hanya dibangun untuk warga, tetapi juga oleh warga.
Pendekatan semacam ini sejalan dengan praktik pembangunan partisipatif yang banyak dibahas dalam literatur pembangunan pedesaan: ketika masyarakat terlibat langsung, manfaat ekonomi jangka pendek—seperti upah kerja dan perputaran uang di desa—dapat dirasakan bersamaan dengan manfaat jangka panjang berupa infrastruktur.
Secara teknis, jalan dibangun dengan lebar rata-rata lima meter, menggunakan material agregat-quarry setebal hingga 60 sentimeter yang dipadatkan dengan compactor. Sistem drainase dirancang untuk mengalirkan air hujan ke jurang atau sungai terdekat—langkah penting di wilayah berbukit yang rawan erosi.
Puuwiwirano dan Tanggola dihuni lebih dari 800 jiwa. Sebagian besar hidup dari pertanian dan perkebunan skala kecil. Hasil kebun kakao, lada, atau umbi-umbian selama ini sering terlambat sampai ke pasar karena akses jalan yang buruk. Pada musim hujan, longsor kecil dan jalan berlumpur bisa memutus jalur distribusi berhari-hari.
Dampaknya tidak hanya ekonomi. Akses ke sekolah menengah atau puskesmas kerap terhambat. Dalam kondisi darurat kesehatan, perjalanan yang sulit dapat menjadi persoalan hidup dan mati.
Kini, dengan jalan yang lebih layak, warga berharap jarak sosial dan ekonomi dengan pusat layanan publik dapat dipangkas. Anak-anak dapat berangkat sekolah tanpa harus menunggu cuaca benar-benar bersahabat. Petani dapat mengangkut hasil panen dengan biaya lebih rendah dan risiko lebih kecil.
Proyek Puuwiwirano–Tanggola bukan titik akhir. Rencana berikutnya adalah membuka jalur Walandawe–Puuwiwirano, yang lebih menantang karena harus melintasi tiga aliran sungai. Artinya, pembangunan jembatan menjadi kebutuhan mendesak.
Kepala Desa Tanggola, Supardi, melihat jalan sebagai pintu awal perubahan yang lebih besar. Ia membayangkan konektivitas antardesa yang tidak lagi terputus oleh sungai dan lembah, sehingga aktivitas ekonomi dan sosial bisa bergerak lebih leluasa.
Sementara itu, di Desa Lalomerui—wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Konawe Utara—proyek pengaspalan jalan mulai dirintis. Ini menjadi proyek pengaspalan pertama di wilayah lingkar tambang PT SCM di Routa. Tantangannya tidak ringan: mobilisasi alat berat ke daerah terpencil memerlukan biaya dan logistik yang tidak sedikit.
Infrastruktur sebagai Investasi Sosial
Dalam banyak studi pembangunan, infrastruktur jalan pedesaan disebut sebagai “social overhead capital”—modal dasar yang memungkinkan aktivitas ekonomi lain tumbuh. Jalan tidak langsung membuat orang kaya, tetapi tanpa jalan yang layak, peluang ekonomi sering kali berhenti di batas desa.
Melalui program PPM, manajemen PT SCM menyatakan komitmennya untuk mendorong pertumbuhan wilayah sekitar tambang sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Pernyataan ini mencerminkan pendekatan yang semakin umum dalam tata kelola industri ekstraktif modern, di mana keberlanjutan sosial menjadi bagian dari strategi operasional jangka panjang.
Namun, bagi warga Routa, ukuran keberhasilan bukan pada istilah kebijakan, melainkan pada hal-hal sederhana: truk hasil panen yang tidak lagi terjebak lumpur, anak sekolah yang tiba tepat waktu, atau pasien yang bisa lebih cepat sampai ke fasilitas kesehatan.
Di ujung jalan baru itu, kabut pagi masih turun seperti biasa. Perbukitan tetap terjal, sungai masih deras saat hujan. Tetapi kini, di antara tikungan dan tanjakan, ada jalur padat yang memberi tanda: isolasi tidak lagi mutlak, dan masa depan perlahan bisa dijangkau dengan roda yang terus berputar. (Diolah dari release press)
