Dari Kolaka ke Generasi Emas: Kisah di Balik Program MBG dan Perjuangan Melawan Stunting di Sultra

Shen Keanu, Lulopedia Indonesia
Thursday, 16 Oct 2025 - 09:59 Wita

LULOPEDIA.ID: Di bawah naungan sebuah tenda yang sederhana di Kelurahan Sabilambo, Kecamatan Kolaka, sebuah janji besar tentang masa depan Indonesia mulai bergema. Bukan janji politik biasa, melainkan cetak biru untuk generasi baru yang lebih cerdas dan berdaya saing, lahir dari piring-piring makanan bergizi yang kini menjadi sorotan utama pemerintah: Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Bagi masyarakat Kolaka, kabupaten pesisir di Sulawesi Tenggara, program ini lebih dari sekadar bantuan pangan. Ia adalah pengakuan bahwa pertarungan sesungguhnya untuk masa depan bangsa dimulai di meja makan keluarga, bahkan sejak dalam kandungan.

Sosialisasi MBG yang diadakan pada Rabu, 15 Oktober, menjadi momentum untuk menegaskan esensi mendalam dari inisiatif ini. Ruangan dipenuhi oleh wajah-wajah penuh harap dari ibu-ibu, tokoh masyarakat, dan perangkat desa, yang semuanya sadar betul akan tantangan gizi di wilayah mereka. Sulawesi Tenggara, seperti banyak daerah lain di Indonesia, masih bergulat dengan isu stunting—kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan.

Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan menunjukkan, meskipun ada penurunan, prevalensi stunting di Sulawesi Tenggara masih berada di angka yang signifikan, menempatkannya di antara provinsi-provinsi yang paling membutuhkan intervensi. Stunting adalah ancaman senyap yang merenggut potensi, membuat anak rentan sakit, kurang cerdas, dan pada akhirnya, terperangkap dalam lingkaran kemiskinan antargenerasi.

Dirgahayu SUlawesi Tenggara

Anggota Komisi IX DPR RI, Ahmad Safei, berdiri di hadapan warga dengan pesan yang lugas. “Gizi bukan hanya urusan dapur, tetapi urusan masa depan,” tegasnya, suaranya dipenuhi keyakinan. “Anak-anak yang tumbuh dengan gizi baik akan menjadi generasi yang cerdas, produktif, dan berdaya saing.”

BACA JUGA  Membangun Masa Depan dari Piring Program Makan Bergizi Gratis di Kolaka

Pernyataan Safei menggarisbawahi temuan-temuan ilmiah yang telah lama menjadi konsensus global: bahwa gizi yang optimal adalah investasi paling mendasar dalam kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Jurnal dan studi ilmiah berulang kali menunjukkan korelasi kuat antara status gizi yang baik dengan peningkatan IQ, produktivitas kerja, dan kemampuan memutus siklus kemiskinan. Program MBG, dalam konteks ini, adalah upaya strategis untuk mempercepat terwujudnya “Indonesia Emas 2045″—visi negara dengan SDM unggul.

Pemerintah, melalui Badan Gizi Nasional (BGN), menyadari bahwa program sebesar MBG tidak bisa berjalan hanya dengan instruksi dari pusat. Perubahan harus ditanamkan dari akar rumput.

BACA JUGA  Tina Nur Alam dan Kebangkitan Partisipasi Politik Perempuan di Sultra

Siswantoro, Auditor Ahli Pertama Badan Gizi Nasional, menjelaskan bahwa MBG melampaui sekadar logistik pembagian makanan. “Kami percaya bahwa perubahan besar dimulai dari komunitas lokal. Dengan dukungan masyarakat, program ini akan memberikan dampak nyata bagi anak-anak dan ibu hamil,” ujarnya.

Inilah inti dari gaya penulisan feature ala BBC News: menggali lapisan di balik kebijakan, menunjukkan elemen human interest dan dampak sosialnya, serta menempatkannya dalam konteks yang lebih luas. Program MBG dirancang bukan hanya untuk mengatasi kekurangan gizi secara langsung, tetapi juga sebagai gerakan nasional untuk meningkatkan kesadaran. Ia mendorong masyarakat untuk mengadopsi pola makan hidup sehat, memantau pertumbuhan anak di Posyandu, dan memastikan ibu hamil mendapatkan asupan yang memadai—semuanya krusial untuk mencegah stunting.

Lebih jauh, data pendukung menunjukkan bahwa MBG juga dirancang memiliki manfaat ekonomi berganda. Dengan mengutamakan produk lokal dan melibatkan rantai pasok di tingkat desa dan daerah, program ini diharapkan dapat memberdayakan ekonomi setempat, memperkuat ketahanan pangan, dan menciptakan lapangan kerja baru—sebuah dampak yang meluas dari sekadar pemenuhan kalori.

BACA JUGA  Dari Bombana untuk Indonesia: Mimpi Besar Mewujudkan Generasi Sehat Lewat Makan Bergizi Gratis

Camat Kolaka, Ritzky Mario, dengan optimisme menyambut tantangan ini. Ia memandang Kelurahan Sabilambo sebagai sebuah kanvas percontohan.

“Program ini bukan hanya soal makanan, tetapi tentang masa depan anak-anak kita. Mari kita jadikan Kelurahan Sabilambo sebagai contoh sukses pelaksanaan program gizi nasional,” serunya.

Keterlibatan Camat dan pemerintah daerah menjadi elemen penting. Sebab, keberhasilan intervensi gizi sangat bergantung pada sinergi lintas sektor—mulai dari kesehatan, pendidikan, pertanian, hingga perlindungan sosial—sebagaimana direkomendasikan dalam literatur ilmiah tentang pembangunan gizi di Indonesia.

Sosialisasi di Kolaka ini menjadi bukti nyata kolaborasi yang diimpikan: pemerintah pusat membawa kebijakan, pemerintah daerah memastikan pelaksanaannya tepat sasaran, dan masyarakat sebagai penerima manfaat sekaligus agen perubahan.

Melalui program Makan Bergizi Gratis, Kolaka kini menjadi salah satu titik fokus perjuangan Indonesia untuk memastikan setiap anak memiliki hak fundamental untuk tumbuh sehat, cerdas, dan optimal. Dengan semangat kebersamaan ini, harapan untuk mewujudkan generasi Kolaka yang lebih produktif, dan pada akhirnya, mengantar Indonesia menuju generasi emas, terasa semakin nyata. (ADV)

Dirgahayu SUlawesi Tenggara

Baca Juga

Rekomendasi untuk Anda