Dari Bombana untuk Indonesia: Mimpi Besar Mewujudkan Generasi Sehat Lewat Makan Bergizi Gratis

Shen Keanu, Lulopedia Indonesia
Saturday, 14 Jun 2025 - 11:01 Wita

LULOPEDIA.ID: Rabu pagi, 11 Juni 2025, langit Bombana berwarna pucat kebiruan. Di Aula Kantor Bupati Bombana, deretan kursi telah tertata rapi. Sekitar 300 warga, sebagian besar orang tua dan pendidik, duduk dengan harapan yang menggantung di wajah mereka.

Mereka datang bukan sekadar untuk mendengarkan sosialisasi biasa. Mereka datang untuk menyambut secercah harapan bagi masa depan anak-anak mereka: Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Indonesia sedang berpacu dengan waktu. Tahun 2045 akan menjadi tonggak satu abad kemerdekaan. Di atas kertas, itu target besar: menjadi negara maju dengan generasi emas sebagai pilar utama.

Namun realitas di lapangan masih berbicara lain. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2023 mencatat angka stunting nasional masih di angka 21,6%. Di Sulawesi Tenggara sendiri, stunting masih menyentuh 27,3%—lebih tinggi dari rata-rata nasional.

Dirgahayu SUlawesi Tenggara

Bombana, salah satu kabupaten di provinsi itu, termasuk dalam wilayah yang ditetapkan sebagai prioritas percepatan penanganan stunting. Maka tak heran jika antusiasme warga begitu tinggi saat Program Makan Bergizi Gratis hadir di tanah mereka.

BACA JUGA  Atasi Stunting, PKK Bombana Gandeng Safari Dakwah Ustadz Ahmad Al-Habsyi

“Program ini bukan sekadar memberi makan. Ini soal masa depan bangsa,” ujar Ahmad Safei, anggota Komisi IX DPR RI yang hadir langsung dalam acara sosialisasi tersebut.

Dalam sambutannya, Safei menekankan bahwa program MBG bukan pekerjaan satu-dua pihak. Ini butuh kerja kolektif: pemerintah pusat, daerah, sekolah, orang tua, dan seluruh lapisan masyarakat. “Pemenuhan gizi anak adalah investasi jangka panjang. Ini yang harus kita pahami bersama,” tegasnya.

Sore itu, di tengah suasana aula yang penuh, Alwin Supriyadi dari Badan Gizi Nasional (BGN) memaparkan peran penting gizi dalam membentuk kualitas sumber daya manusia Indonesia. Ia tidak bicara dengan bahasa teknis. Ia bicara dengan logika sederhana namun tajam: anak yang kenyang dan bergizi akan lebih mudah menyerap pelajaran, lebih fokus di kelas, dan lebih siap menghadapi masa depan.

“Peningkatan kualitas manusia Indonesia dimulai dari piring makan mereka,” ujarnya. Menurut Alwin, tiga hal menjadi tujuan utama dari program MBG: meningkatkan akses terhadap makanan bergizi, memperluas pengetahuan masyarakat tentang gizi, dan membentuk pola makan sehat sejak dini.

BACA JUGA  Iriana Jokowi Buka Pameran Dekranas, Bombana Perkenalkan Tenun Motif Baru

Konsep ini sejalan dengan mandat Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2024 tentang Strategi Nasional Gizi. Di dalamnya disebutkan bahwa upaya pemenuhan gizi peserta didik—baik yang bersekolah maupun yang tidak—adalah bagian dari strategi nasional pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

Burhanuddin, Bupati Bombana, yang turut hadir dalam acara itu, mengungkapkan komitmen pemerintah daerah. Ia menggarisbawahi pentingnya membangun ekosistem pendukung: mulai dari ketersediaan bahan pangan lokal, pelibatan UMKM, hingga edukasi berkelanjutan di sekolah-sekolah.

“Bombana punya potensi pertanian dan perikanan. Program MBG harus mampu menggerakkan potensi lokal untuk mendukung ketahanan gizi anak-anak kita,” katanya.

Faktanya, ketahanan pangan dan pemanfaatan bahan lokal menjadi elemen penting dalam efektivitas program semacam ini. Sebuah studi dari Universitas Gadjah Mada menyebutkan bahwa intervensi gizi berbasis lokal lebih berkelanjutan karena memanfaatkan sumber daya sekitar dan meningkatkan ekonomi mikro.

BACA JUGA  Lautan Semangat, Ribuan Warga Bombana Padati Kampanye Pasangan BERANI

Namun tentu saja, program ambisius seperti MBG ini tidak akan berjalan mulus tanpa tantangan. Logistik distribusi makanan, pengawasan mutu, pengukuran dampak, hingga perubahan pola pikir masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah besar. Akan tetapi, hadirnya semangat kolaborasi lintas sektor seperti yang tampak di Bombana adalah modal awal yang sangat kuat.

Di akhir acara, saat lagu “Bagimu Negeri” bergema di aula, suasana menjadi emosional. Beberapa ibu terlihat menitikkan air mata. Bukan karena sedih, tapi karena harapan yang tumbuh. Harapan bahwa anak-anak mereka, yang dulu hanya sarapan teh manis dan singkong rebus, kini bisa makan dengan gizi seimbang, secara gratis, setiap hari.

Dan dari Bombana, mimpi itu mulai dibangun. Mimpi tentang anak-anak Indonesia yang tumbuh tinggi, cerdas, dan sehat. Menuju 2045 dengan dada tegak dan perut yang tak lagi kosong. (Adv)

Dirgahayu SUlawesi Tenggara

Baca Juga

Rekomendasi untuk Anda