
LULOPEDIA.ID: Sore itu, di Desa Tiroau, Pulau Tomia, bunyi gendang tua berpadu dengan dentang parang kayu. La Ode Abdul Hasan (53) duduk bersila di tengah lingkaran anak-anak, tangannya menari di atas kulit gendang yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil.
Di matanya, ada kilau nostalgia. “Saya belajar Sajo Moane sejak kelas lima SD dari La Ode Muslihi,” ujarnya, mengulang kisah yang baginya adalah warisan yang tak ternilai.
La Ode Muslihi sendiri adalah pewaris terakhir tarian ini dari sang ayah, La Ode Mbau. Di masa kecil Abdul Hasan, setiap sore adalah waktu latihan. “Jumlah penari asli hanya 20 orang. Kostumnya selalu merah, hitam, dan kuning—tetap sama seperti sekarang,” kenangnya.
Warna-warna itu bukan sekadar estetika; merah melambangkan keberanian, hitam keteguhan, dan kuning kemuliaan.

Tiga puluh sembilan tahun lalu, Sajo Moane ke panggung Festival Tari Tradisional Indonesia 1985 di Yogyakarta, mewakili Sulawesi Tenggara. Kini, kembali menggaung ke panggung bergengsi—kali ini di Istana Negara.
Hasan—bukan sebagai penari, melainkan penabuh gendang yang memanggil denyut heroik tarian ini.
“Sajo Moane itu persatuan dan perjuangan,” katanya.
November 2024 menjadi tonggak penting. Sajo Moane resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Status itu mengukuhkan nilai sejarah tarian ini, yang setiap gerakannya mengandung unsur silat dan adu parang—simbol perlawanan masyarakat Tomia di masa lampau.
Dari Tomia ke Jakarta
Perjalanan Sajo Moane menuju Istana Negara untuk peringatan HUT ke-80 RI dimulai akhir Juli 2025, saat Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengirim undangan resmi. Kepala Bidang Pengembangan Pemasaran Dispar Wakatobi, Arif Rahmansyah, mengingat momen itu dengan jelas. “Permintaan awalnya 200 penari, tapi daerah hanya sanggup memberangkatkan 70 orang. Usulan ini disetujui Kemenpar,” ujarnya.
Seleksi ketat di Tomia menyaring 100 anak menjadi 70 penari. Mereka hanya punya waktu dua hari gladi di kampung halaman sebelum berangkat ke Kendari. Di Gedung KONI, sejak 10 Agustus, mereka berlatih intensif. Untuk versi kolosal, 70 penari Wakatobi berkolaborasi dengan 45 penari dari Sanggar Natural Kendari, binaan Dr. Sukri. “Rombongan berangkat ke Jakarta 13 Agustus sore. Gladi di Istana dilakukan 14 Agustus, lalu tampil di puncak peringatan,” jelas Arif.
Di tengah euforia, muncul diskusi publik soal perubahan gerakan. Arif menegaskan bahwa penampilan ini adalah kolaborasi, bukan Sajo Moane murni. “Sukri berkonsultasi dengan pelatih asli di Tomia. Kesepakatannya: gerakan inti, pakaian, nilai, dan filosofi tetap; formasi bisa disesuaikan,” jelasnya. Ia menambahkan, format kolosal ini hanya untuk momen kemerdekaan di Istana—di panggung lain, keaslian tarian akan tetap terjaga.
Jejak Prestasi di Panggung Nasional
Bagi La Ode Bungane, pelatih pendamping yang memoles gerakan dan syair, perjalanan Sajo Moane sudah melintasi banyak panggung bergengsi. Tahun 1998, tarian ini hadir di ulang tahun ke-23 Taman Mini Indonesia Indah yang dihadiri Presiden Soeharto. Setahun sebelumnya, tampil di Festival Keraton Nusantara II di Cirebon. Bahkan, pernah menyambut Presiden Joko Widodo di Wakatobi.
Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, memandang kesempatan tampil di Istana Merdeka sebagai promosi budaya Bumi Anoa. “Tidak sekadar tampil, tapi memperkenalkan budaya Sulawesi Tenggara. Wakatobi adalah manifestasi kepulauan,” katanya.
Kepala Dinas Pariwisata Sultra, Belli Harli Tombili, menambahkan bahwa mayoritas penari adalah anak-anak Tomia yang berkolaborasi dengan penari Kendari. “Tari ini menggambarkan semangat persatuan dan perjuangan wilayah timur Indonesia,” ujarnya.
Koreografer Sukrin Suhardi merinci, dari 160 penari, 100 adalah anak laki-laki yang membawakan Sajo Moane, dan 60 remaja putri mengiringi bagian Posa’asa. Properti berupa parang melambangkan perjuangan, sementara Posa’asa menjadi simbol persatuan—sejalan dengan tema HUT ke-80 RI: Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju.
Bagi Hasan, semua ini adalah bukti bahwa Sajo Moane tidak akan punah. Selama masih ada gendang yang ditabuh dan parang kayu yang beradu, tarian ini akan tetap hidup—menggemakan kisah perjuangan masyarakat Tomia, dari pesisir Wakatobi hingga jantung Republik di Jakarta.
Laporan: Shen Keanu
