
LULOPEDIA.ID: Pagi itu, langit Balandete, Kabupaten Kolaka, tampak cerah. Di balai kelurahan yang sederhana namun ramai, puluhan warga sudah berkumpul. Di antara mereka, tampak sejumlah ibu rumah tangga, guru PAUD, dan para kader posyandu. Mereka duduk, menyimak dengan saksama setiap kalimat dari mikrofon. Di depan, terpampang spanduk bertuliskan “Sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG)”.
Program ini bukan sekadar acara formal. Ia adalah langkah nyata pemerintah untuk mengubah wajah masa depan anak-anak Indonesia—melalui hal paling sederhana yang sering terabaikan: asupan gizi harian.
Di hadapan warga, Anggota Komisi IX DPR RI Ahmad Safei membuka sosialisasi dengan kalimat yang menancap di benak banyak orang:
“Anak-anak adalah masa depan bangsa. Tapi masa depan itu tak akan tercapai tanpa tubuh yang sehat dan gizi yang cukup.”

Ucapan itu seakan menjadi pengingat keras di tengah realitas Indonesia yang masih berjuang menurunkan angka stunting—masalah kronis yang, menurut data Kementerian Kesehatan 2023, masih menimpa sekitar 21,5% anak Indonesia.
Bagi Safei, yang juga mewakili Sulawesi Tenggara di Senayan, program MBG adalah upaya konkret negara menghadirkan keadilan sosial dalam bentuk paling dasar: makanan bergizi untuk setiap anak. Ia menegaskan bahwa Komisi IX DPR RI bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, BPOM, dan BKKBN memastikan implementasi program ini menjangkau hingga pelosok.
“Kita ingin anak-anak di Balandete mendapatkan hak yang sama dengan anak-anak di Jakarta. Tidak boleh ada kesenjangan gizi hanya karena faktor geografis,” ujarnya.
Dalam penjelasannya, Kholiddin, Auditor Ahli Pertama dari Badan Gizi Nasional (BGN), memaparkan mekanisme pelaksanaan program di lapangan. Ia menjelaskan, Makan Bergizi Gratis bukan hanya soal membagikan makanan, tetapi tentang membangun sistem.
“Program ini melibatkan banyak pihak: ahli gizi, tenaga administrasi, akuntan, hingga warga sekitar sebagai relawan dapur MBG,” katanya.
Dapur MBG akan dikelola secara profesional. Selain menyediakan makanan bergizi bagi ibu hamil, menyusui, dan anak sekolah dari PAUD hingga SMA, dapur ini juga memberdayakan ekonomi warga. Bahan pangan diperoleh dari petani dan pedagang lokal, menciptakan rantai ekonomi kecil yang berdampak langsung di masyarakat.
Model semacam ini mengingatkan pada School Feeding Program yang sukses di beberapa negara seperti Jepang dan Brasil—di mana pemberian makanan bergizi di sekolah berkontribusi besar terhadap peningkatan konsentrasi belajar dan penurunan angka putus sekolah.
Lurah Balandete, Irwan, menyampaikan pandangan realistisnya:
“Permasalahan gizi di Kolaka masih kompleks. Stunting dan kekurangan gizi tidak bisa diatasi sendirian. Harus ada kolaborasi lintas sektor.”
Irwan mengakui, meskipun pemerintah telah meluncurkan berbagai program, masih banyak keluarga yang kesulitan mengakses bahan makanan bergizi karena faktor ekonomi. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kolaka 2024, sekitar 11,8% rumah tangga masih berada di bawah garis kemiskinan, dan sebagian besar tinggal di pedesaan.
Program MBG hadir untuk mengintervensi titik kritis itu. Ia tidak hanya mengedukasi masyarakat tentang pola makan sehat, tetapi juga mengubah paradigma bahwa gizi bukan urusan dapur semata, melainkan urusan kebangsaan.
Bagi warga Balandete, program ini membuka harapan baru. Para ibu seperti Siti Rahma, yang setiap pagi menyiapkan bekal sederhana untuk dua anaknya, mengaku bersyukur bisa mendapatkan informasi langsung dari BGN.
“Kadang kami tidak tahu makanan apa yang benar-benar bergizi. Dengan sosialisasi ini, kami jadi tahu pentingnya protein, sayur, dan buah untuk anak-anak,” katanya sambil tersenyum.
Para guru PAUD pun menyambut antusias. Mereka berencana membuat kegiatan “bekal sehat” setiap minggu di sekolah, agar anak-anak terbiasa dengan makanan bergizi sejak dini.
Pemerintah menargetkan program MBG menjadi bagian dari strategi besar membangun Generasi Emas 2045, yakni generasi yang sehat, produktif, dan unggul secara intelektual.
Sebuah studi dari UNICEF (2024) menegaskan bahwa investasi pada gizi anak memberikan return sosial dan ekonomi hingga 16 kali lipat dalam jangka panjang—karena anak yang bergizi baik cenderung memiliki daya pikir, produktivitas, dan penghasilan lebih tinggi di masa depan.
Sosialisasi hari itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun gema pesannya panjang. Ketika para peserta pulang membawa selebaran tentang “Pola Makan Seimbang 4 Sehat 5 Sempurna,” mereka juga membawa satu hal yang lebih penting: kesadaran.
Bahwa membangun bangsa tidak selalu dimulai dari gedung parlemen atau ruang rapat pemerintah. Kadang, ia dimulai dari sebuah piring kecil berisi nasi, sayur, lauk, dan segelas susu—yang disajikan dengan cinta untuk anak-anak bangsa.
Dan di Kolaka, langkah kecil itu baru saja dimulai. (adv)
