Kolang-Kaling, Pengetahuan Lokal, dan Ikhtiar Ekonomi Hijau di Tobimeita

Shen Keanu, Lulopedia Indonesia
Sunday, 21 Sep 2025 - 16:16 Wita

LULOPEDIA.ID: Sabtu pagi itu, 20 September 2025, sekitar pukul 10.00 Wita, di sebuah balai Kelurahan Tobimeita, Kecamatan Nambo, Kota Kendari, tak lagi sekadar tempat bernaung dari terik. Kursi plastik berjejer; layar putih dipasang sederhana di dinding hijau. Di hadapannya, tiga puluhan warga—sebagian adalah anggota Kelompok Tani Hutan (KTH)—mendengarkan dengan saksama pemaparan tim kampus tentang sesuatu yang akrab di lidah, tetapi jarang dipandang sebagai ilmu: kolang-kaling.

Di hadapan mereka berdiri para pengajar dari Jurusan Kehutanan, Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan (FHIL) Universitas Halu Oleo (UHO). Kegiatan pengabdian masyarakat itu dibuka oleh Dekan FHIL, Dr. Lies Indriyani, SP., M.Si., bersama Lurah Tobimeita, Zulfadly Iskandar, S.Kom. Pesannya lugas: hasil hutan bukan kayu (HHBK)—seperti kolang-kaling dari pohon aren (Arenga pinnata)—bisa menjadi tumpuan ekonomi lokal jika dikelola dengan benar, tanpa meninggalkan prinsip keberlanjutan.

Di balik layar presentasi, Dr. Zakiah Uslinawaty, S.Hut., M.Si. memimpin tim—bersama Dr. Lies Indriyani, SP., M.Si.; Niken Pujirahayu, SP., MP.; Nurhayati Hadjar, S.Hut., M.Si.; Abigael Kabe, S.Hut., M.Si.; dan Dr. Nurnaningsih Hamzah, S.Hut., M.Hut.—memaparkan hal-hal yang tampak sederhana namun krusial: dasar gizi, sanitasi, hingga teknik pengawetan alami. Materi ini berangkat dari satu premis: pengetahuan tepat di hulu menentukan mutu dan nilai di hilir.

Kolang-kaling—endosperma muda biji aren—selama ini dikenal sebagai pangan pelengkap di banyak daerah Indonesia. Secara umum, literatur gizi menggambarkannya sebagai bahan pangan rendah lemak, kaya air dan serat, dengan indeks kalori moderat; karakternya membantu rasa kenyang dan mendukung fungsi pencernaan bila dikonsumsi wajar.

Dirgahayu SUlawesi Tenggara

Di tingkat rumah tangga, ia sering direbus dan dipadukan dengan sirup, gula aren, atau santan. Tetapi meningkatkan daya simpan dan menjamin konsistensi mutu—itulah wilayah pengetahuan yang tak selalu turun temurun diajarkan secara standar.

BACA JUGA  Mengurai Cara Tina-Ihsan Mengatasi Bencana Ekologis Akibat Tambang Ilegal di Sultra

Di sinilah kampus turun tangan: mengonversi pengetahuan ilmiah terapan menjadi praktik sederhana yang dapat direplikasi—tanpa pengawet sintetik—sehingga nilai tambah tercipta di tingkat kelompok tani. Dalam bahasa kebijakan, HHBK semacam ini adalah jalur ekonomi hijau: menambah pendapatan tanpa menambah laju deforestasi.

Di sesi praktik, peserta diajak menelisik rantai pengolahan yang rapi:
(1) Sortasi—memilih butiran yang seragam; (2) Pencucian—air bersih mengalir, peralatan disanitasi; (3) Perendaman—mengurangi lendir alami dan senyawa penyebab aroma tajam; (4) Blanching—perebusan singkat untuk menonaktifkan enzim, membantu stabilisasi tekstur; (5) Pendinginan cepat; (6) Pengemasan bersih.

Kunci “tanpa pengawet sintetik” ada pada tiga hal: kebersihan, suhu, dan wadah. Dengan pH dan aktivitas air yang terkendali melalui teknik blanching dan praktek higienis, populasi mikroba pembusuk dapat ditekan, mutu sensori—kenyal, jernih, tidak beraroma menyengat—lebih konsisten.

Pilihan kemasan praktis (misalnya plastik food-grade berperekat panas) dan penyimpanan dingin memperpanjang masa simpan produk segar; sementara varian olahan—seperti sirup/kompot kolang-kaling—membuka ceruk pasar baru dengan nilai tambah.

Kepada peserta, tim menekankan label sederhana—tanggal produksi, estimasi kedaluwarsa, dan identitas kelompok—agar konsumen memperoleh kejelasan informasi dan pelaku usaha belajar standar yang dapat diaudit. Di tahap lanjut, pendampingan akan menyasar penyusunan SOP ringkas, uji organoleptik sederhana, serta desain kemasan yang sesuai target pasar lokal.

Aren, Peta Ekologi dan Ekonomi Rumah Tangga

BACA JUGA  Maxcell Kendari Gelar Undian Berhadiah Untuk Pelanggan, Hadiah Utama Rumah

Aren adalah tanaman palma yang toleran terhadap lereng dan tanah marginal, sering tumbuh sebagai mosaik agroforestri di pinggiran hutan dan kebun campuran. Di Sulawesi—termasuk Sulawesi Tenggara—ia hadir bersama kopi, kakao, kelapa, dan tanaman pekarangan lain.

Secara ekologis, aren menyediakan tajuk yang menaungi tanah, meminimalkan erosi, dan mendukung keanekaragaman hayati skala mikro. Secara ekonomi rumah tangga, diversifikasi produksi—nira (gula semut/gula cetak), ijuk, pati aren, hingga kolang-kaling—memberi portofolio pendapatan yang membantu keluarga bertahan dari fluktuasi pasar.

Pendekatan HHBK yang diperkenalkan di Tobimeita sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan: mengoptimalkan hasil tanpa memperluas bukaan lahan. Bagi KTH, ini berarti menguatkan posisi tawar melawan biaya input yang naik turun. Bagi konsumen kota Kendari, ini berarti mendapat pangan lokal yang lebih higienis, lebih transparan, dan lebih dekat dengan rumah.

Dalam rantai nilai pangan skala kecil, detail kecil sering menjadi pembeda harga yakni kejernihan butiran kolang-kaling (indikator pencucian dan pemasakan benar), tekstur (tidak terlalu lembek/keras—indikator kendali suhu dan waktu),  aroma (bersih—indikator sanitasi dan perendaman memadai), dan kemasan (rapi—indikator kepercayaan dan kemudahan distribusi).

Ketika empat indikator ini konsisten, produk lebih mudah diterima pedagang dan pelanggan, dan margin dapat meningkat. Pelatihan di Tobimeita dengan sengaja menstandarkan “detail kecil” tersebut—agar pengetahuan tak berhenti di ruang pelatihan, melainkan menular menjadi kebiasaan produksi.

Di banyak desa, rantai pengolahan pangan rumah tangga digerakkan tenaga perempuan. Menguatkan praktik higienis dan pencatatan sederhana berarti mengafirmasi pengetahuan domestik sebagai keterampilan profesional. Di forum ini, aspek itu hadir implisit: alat bersih, air mengalir, waktu tepat, wadah aman—empat pilar yang terjangkau namun berdampak besar pada kualitas. Dari sini terbuka jalan ke usaha mikro: produk siap saji untuk pasar lokal, pesanan musiman untuk hajatan, atau kemitraan kecil dengan kedai minuman.

BACA JUGA  Antusiasme Warga Wonggeduku, Tina Nur Alam dan Visi Bahteramas Sultra 2024

Menjaga Janji Keberlanjutan

Kegiatan di Tobimeita tidak berhenti pada pelatihan. Tim FHIL UHO menyiapkan pendampingan lanjutan: membakukan SOP, uji coba variasi olahan, dan rancangan label yang sesuai regulasi dasar pangan rumah tangga. Untuk KTH, keberlanjutan berarti tiga hal:

  1. Lingkungan terjaga—pohon aren tetap berdiri sebagai aset jangka panjang.
  2. Ekonomi rumah tangga membaik—nilai tambah tercipta dari praktek yang aman dan higienis.
  3. Pengetahuan terpelihara—keterampilan diinternalisasi dan diturunkan lintas generasi.

Di sisi kebijakan, HHBK adalah kanal strategis: menumbuhkan ekonomi tanpa menambah beban ekologis. Di lapangan, ia hadir sebagai butiran kolang-kaling yang bening dan kenyal—citra kecil dari ekonomi hijau yang dikerjakan oleh banyak tangan.

Menjelang siang berganti sore, satu per satu peserta menutup sesi dengan rencana kerja sederhana: mencatat waktu perebusan, mengganti wadah lama, mencoba label tanggal, menata kemasan. Tak ada mesin besar, tak ada pabrik. Yang ada adalah pengetahuan kecil yang diulang dengan disiplin. Dari situlah nilai lahir—pelan namun pasti—menjembatani hutan dan meja makan.

Di Tobimeita, kolang-kaling bukan lagi sekadar isian segar di gelas es sirup. Ia adalah cerita tentang ketekunan, ilmu terapan, dan harapan ekonomi yang tumbuh dari pohon-pohon aren yang tetap berdiri.

Laporan: Shen Keanu

Dirgahayu SUlawesi Tenggara

Baca Juga

Rekomendasi untuk Anda