
LULOPEDIA.ID: KENDARI – Di tengah rutinitas politik yang kerap identik dengan perebutan kekuasaan dan kepentingan jangka pendek, La Ode Darwin, Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Tenggara (Sultra), memilih langkah berbeda. Ia ingin partai yang dipimpinnya tidak hanya kuat secara politik, tetapi juga mandiri secara ekonomi.
Darwin punya keyakinan sederhana: partai politik tidak bisa bergantung terus-menerus pada bantuan kepala daerah atau anggota legislatif. Ia ingin membangun budaya baru di tubuh Golkar — bahwa kemandirian finansial adalah pondasi partai yang berdaulat.
“Saya ingin setiap DPD II punya sumber anggaran dari usaha sendiri. Jangan hanya berharap dari APBD atau kontribusi anggota DPR,” tegas Darwin ditemui usai terpilih secara aklamasi sebagai ketua pada Musda XI Golkar Sultra, 2 November 2025, di Kendari.
Gagasan itu bukan muncul tiba-tiba. Sebagai seorang pengusaha muda yang sukses di sektor pertambangan dan konstruksi, Darwin memahami bagaimana kekuatan ekonomi bisa menopang kemandirian organisasi. Ia melihat realitas di lapangan: banyak pengurus partai di daerah kesulitan menjalankan program karena tidak punya sumber dana tetap.

Bagi Darwin, masalah klasik ini harus dipecahkan dengan cara kreatif. Ia mulai menggagas agar DPD II Partai Golkar di seluruh kabupaten dan kota mengembangkan unit usaha produktif — mulai dari gerai UMKM, coffee shop kader, hingga peternakan ayam petelur.
“Kebutuhan telur di Sultra besar. Kalau tiap DPD II punya peternakan ayam petelur, hasilnya bisa membiayai kegiatan partai dan sekaligus membuka lapangan kerja,” jelasnya.
Darwin ingin menjadikan Golkar bukan sekadar organisasi politik, tapi juga wadah pemberdayaan ekonomi masyarakat dan kader di daerah.
Gagasan kemandirian finansial ini sejalan dengan arah kebijakan nasional yang menekankan ketahanan pangan dan penguatan ekonomi rakyat. Darwin percaya, partai politik masa kini harus mampu menunjukkan kontribusi nyata bagi masyarakat, bukan sekadar hadir menjelang pemilu.
“Dengan cara ini, partai bukan hanya bergerak di politik, tapi juga memberi dampak ekonomi bagi kader dan masyarakat,” ujarnya.
Langkah itu akan segera diwujudkan lewat rapat koordinasi DPD I bersama seluruh DPD II se-Sultra, yang akan membahas bentuk usaha sesuai potensi ekonomi daerah masing-masing.
“Kami akan diskusikan format yang cocok di tiap wilayah. Ada daerah yang cocok dengan peternakan, ada yang kuat di perikanan atau UMKM. Tapi prinsipnya sama: Golkar harus mandiri,” kata Darwin mantap.
Langkah Darwin ini menandai era baru dalam manajemen partai Golkar di Sultra. Sejak terpilih secara aklamasi pada Musda XI Golkar Sultra, 2 November 2025, ia dikenal membawa napas modernisasi dan efisiensi dalam mengelola struktur partai.
Sebagai Bupati Muna Barat sekaligus Ketua Golkar Sultra, Darwin berada di posisi unik — antara tanggung jawab pemerintahan dan kepemimpinan politik. Namun di kedua perannya, ia menunjukkan visi yang konsisten: membangun kemandirian dan kesejahteraan dari bawah.
“Saya tidak ingin Golkar hanya jadi mesin politik lima tahunan. Saya ingin partai ini jadi ruang belajar, bekerja, dan berdaya bagi kader dan rakyat,” katanya.
Kiprah La Ode Darwin mencerminkan wajah baru Partai Golkar di Indonesia Timur: muda, progresif, dan berbasis kerja nyata. Gagasannya tentang ekonomi partai menjadi cermin dari cara berpikir generasi baru politisi daerah yang tidak hanya mengandalkan retorika, tapi juga hasil konkret.
Dalam pandangan banyak kader, langkah Darwin bisa menjadi model transformasi partai politik di era modern — partai yang tak hanya berbicara soal kekuasaan, tetapi juga menebar manfaat bagi ekonomi lokal dan masyarakat luas.
Jika gagasan ini berhasil diterapkan, bukan tidak mungkin Sulawesi Tenggara akan menjadi contoh nasional tentang bagaimana partai politik bisa hidup mandiri tanpa kehilangan idealisme. (shen)
